Ada dua pecandu yang tidak akan pernah merasa kenyang: orang yang mencari ilmu dan orang yang mencari harta.

Ali Ibn Abu Thalib

Mau jadi yang mana?
#ntms

(via jamikanasa)

Ada yang sekuat tenaga berdiam diri menahan adanya rasa. Bertahan menjaga rahasia selain kepada sang Pencipta. Ia tahu, ia tak ingin binasa karena cinta yang ada.

Cerpen : Bapak

Bapak adalah laki-laki paling khawatir saat anak perempuannya jatuh cinta. Ketika usia anaknya bertambah menjadi kepala dua. Bukan kepalang beliau siang malam memikirkan segala kemungkinan. Laki-laki seperti apa yang akan anak perempuannya nanti ceritakan. Cerita yang mau tidak mau seperti petir di lautan siang-siang.

Kekhawatiran itu tidak berlebihan. Sebab sepanjang pengetahuannya, tidak ada laki-laki yang baik di dunia ini kecuali dirinya sendiri. Untuk kali ini, Bapak boleh menyombongkan diri. Karena kenyataannya memang begitu. Tidak ada laki-laki yang cintanya paling aman selain bapak. Ibu sendiri mengakui.

Bapak adalah laki-laki yang paling takut anak perempuannya jatuh cinta. Laki-laki mau sebaik apapun tetaplah brengsek baginya, berani-beraninya membuat anaknya jatuh, cinta pula. Sudah dibuat jatuh, dibuat cinta pula. Benar-benar tidak masuk akal.

Malam itu, ketika dikira anak perempuannya terlelap. Bapak berbicara kepada ibu di ruang tamu. Tentang segala kemungkinan yang terjadi bila anak perempuan satu-satunya diambil orang. Tentang sepinya rumah ini. Tentang masa tua. Tentang hidup berumah tangga. Kukira bapak berlebihan. Tapi warna suaranya menunjukkan kepedulian.

Aku yang sedari tadi pura pura tidur, mendengarkan. Semoga aku bertemu dengan laki-laki yang lebih bijaksana dari bapak. Karena aku membutuhkan kebijaksanaannya untuk memintanya tidak meninggalkan bapak dan ibu sendirian.

Ku harap ada yang menga-aamiin-kan.

Bandung, 16 Juli 2014 | (c)kurniawangunadi

perpusassalam:

#ODOP_3 [Mencicipi Kata-Kata] Jika ingin memulai bicara hendaklah kita seperti sedang mencicipi masakan, apakah ia sudah pas di lidah sendiri dan layak dihidangkan kepada orang lain. Mencicipi kata-kata adalah dengan menimbang apakah ucapan yang akan keluar lewat lisan (atau tulisan) itu memberikan manfaat dan kebaikan bagi yang mendengar (atau yang membaca)nya. Jika engkau ingin tahu apa yang ada dalam hati seseorang, maka perhatikanlah gerakan mulut (lisan)nya, karena lisannya akan memperlihatkan kepadamu apa yang ada di dalam hatinya. “Hati itu ibarat periuk yang sedang mendidih, sedangkan lisan ibarat gayungnya. Maka perhatikanlah seseorang ketika berbicara, karena lisannya sedang menciduk untukmu apa yang ada di dalam hatinya, manis atau pahit, tawar atau asin, dan lain sebagainya. Dan cidukan lisannya akan menjelaskan kepadamu rasa hati orang itu.” [Yahya bin Mu’adz] Tidak perlu menunggu berbuka puasa untuk mencicipi kata-kata. :)

[Resolusi Ramadhan 1435 H | One Day One Poster | Perpustakaan Islam As-Salam]

perpusassalam:

#ODOP_3

[Mencicipi Kata-Kata]

Jika ingin memulai bicara hendaklah kita seperti sedang mencicipi masakan, apakah ia sudah pas di lidah sendiri dan layak dihidangkan kepada orang lain. Mencicipi kata-kata adalah dengan menimbang apakah ucapan yang akan keluar lewat lisan (atau tulisan) itu memberikan manfaat dan kebaikan bagi yang mendengar (atau yang membaca)nya.

Jika engkau ingin tahu apa yang ada dalam hati seseorang, maka perhatikanlah gerakan mulut (lisan)nya, karena lisannya akan memperlihatkan kepadamu apa yang ada di dalam hatinya.

“Hati itu ibarat periuk yang sedang mendidih, sedangkan lisan ibarat gayungnya. Maka perhatikanlah seseorang ketika berbicara, karena lisannya sedang menciduk untukmu apa yang ada di dalam hatinya, manis atau pahit, tawar atau asin, dan lain sebagainya. Dan cidukan lisannya akan menjelaskan kepadamu rasa hati orang itu.”
[Yahya bin Mu’adz]

Tidak perlu menunggu berbuka puasa untuk mencicipi kata-kata. :)

[Resolusi Ramadhan 1435 H | One Day One Poster | Perpustakaan Islam As-Salam]

Belum Pernah Kehilangan

laninalathifa:

“Feb, kita nggak akan pernah kehilangan apa-apa. Kan semuanya milik Allah. Kita cuma dipinjamkan. Kalau segalanya milik Allah, boleh dong Allah ambil lagi. Caranya pun suka-suka Allah. Kok bisa-bisanya ngerasa kehilangan atas sesuatu yang bukan milik sendiri.”

MasyaAllah. Malu rasanya. Malu sudah sombong, merasa yang ada adalah milik diri. Padahal sejatinya diri ini terlahir tidak punya apa-apa. Segala kelengkapan yang diperoleh seiring perjalanan pun sejatinya hanyalah titipan. Ia melengkapi diri supaya diri semakin yakin bahwa hidup harus berguna, berdampak, dan bermanfaat.

Tak satupun pantas dikatakan milik diri. Bahkan raga yang melekat ini pun bukan. Lalu, bila raga yang jelas membersamai ini pun bukan milik diri, apalagi yang di luar diri?

Akhirnya saya tersadar bahwa sesungguhnya saya belum pernah kehilangan apa-apa, dan tidak akan pernah kehilangan apa-apa. Semuanya adalah milik Allah.

Adapun bentuk kehilangan paling nyata adalah kehilangan iman, bukan dunia. Sebab iman adalah satu-satunya perekat antara diri dan Pencipta. Hilang iman, barulah hilang segala. Selainnya? Tidak ada kehilangan. Bahkan hilangnya sesuatu yang teramat dicintai pun, jika itu di dunia, maka ia hanyalah sebuah pelajaran berharga bahwa memang tak ada satupun yang kita miliki, semua pasti kembali.

[Source: Febrianti Almeera]

Kita seharusnya memberikan perhatian besar pada pendidikan sirah nabawi, kisah teladan para pendahulu kita yang mulia dari kalangan nabi, sahabat, tabi’in, dan para ‘ulama untuk para anak-anak kita.

Mengapa?

Agar di usia remajanya yang memerlukan tokoh anutan, ia tak kehilangan referensi; sebelum ia mengenal para penjaja hiburan penuh nafsu, yang lisan kita terlalu mulia untuk menyebutnya.

Demi Allah, hidup dan perjuangan Rasulullah saw. beserta para sahabatnya lebih dahsyat, memukau, dan membuat decak kekaguman.

—disarikan dari Salim A. Fillah dalam Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan (via superbmother)

Beda istri sama pacar? Istri menggenapkan separuh agama, sementara pacar memporakporandakan agama yang tersisa.

—Kak Dewinta Maharani

Bener sih, tapi...

  • A : Besok materinya kisah dari sosok yang menginspirasi ya
  • H : Aku besok bawain kisah Siti Aisyah istri Nabi Muhammad SAW aja kalau gitu
  • A : Selain itu kisah siapa lagi ya?
  • S : Gimana kalau kisah hidup aku aja?
  • A : Emang hidup kamu udah bisa menginspirasi?
  • Jleb... *lalu hening*