hhp.

Still improving since 1997

bukangadisbiasa:

asmataqiya:

erstudio:

Tumbuh sendirian. Tumbuh di tengah-tengah sesuatu yang keras.

semacam… melawn keterbatasan

Bukan gadis biasa ;)

(Source: jonnovstheinternet, via qalesyasophia)

“Tetap lah selalu menjadi gelas yang berisi setengah air. Gelas yang “merasa” penuh, tidak akan bisa menerima sedikit pun air tambahan, karena semua air yang dituangkan pasti akan tumpah.”

—   Jangan sombong, Nak.. (via arnova)

“Sahabat yang paling baik adalah orang yang Anda percaya dan membuat dirimu tenang bersamanya. Dia menjadi tempat berbagi kelelahan dan berbagi kesedihan. Dan, dia tidak pernah menjual rahasia dirimu.”

—   

DR.’Aidh Al-Qarni

#sahabatku pengelana

"Dan dia tidak pernah menjual rahasia dirimu."

(Source: zsazakiah, via qalesyasophia)

“Cara menasehati seseorang paling baik adalah ketika seseorang itu memang siap menerima nasehat itu. Menasehati saat seseorang sedang tidak siap menerima, itu sama seperti melakukan penghakiman kepadanya.”

—   

Juga ingat, nasihat terbaik disampaikan secara diam-diam kepada orang tersebut. Bukan di depan umum.

Ditambah, tidak perlu menjadi orang paling baik dan paling sempurna dulu untuk menjadi orang yang memberi nasehat. Bila orang harus baik dulu baru boleh memberi nasehat, niscaya tidak akan pernah ada nasehat di dunia ini.

Saling mengingatkanlah dengan cara yang baik :)

(Source: kurniawangunadi)

“Hidup bukan soal siapa lebih hebat dari siapa. Tetapi soal siapa yang lebih hebat dari hari ke hari”

—   

urfaqurrotaainy 

tafsir bebas dari perkataan bijak (nggak saya sebut hadits karena derajat kesahihannya masih dipertanyakan) :

"Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia termasuk orang yang beruntung"

(via urfaqurrotaainy)

kurniawangunadi:

Pertanyaan menarik : Sering orang berkata, laki-laki dilihat masa depannya, wanita dilihat masa lalunya, bagaimana menurut mas Gun?

Ini saya jawab :
Saya akan menjawab dengan pendapat pribadi, jadi ini subjektif ya :)Menurut saya, kalimat tersebut sangat picik dan cenderung menyudutkan perempuan. Saya laki-laki dan ketika membicarakan perempuan saya selalu berkaca bagaimana bila itu adalah ibu saya, saudara perempuan saya, atau istri dan anak-anak perempuan saya nantinya.Masa lalu itu dimiliki setiap orang, baik laki-laki dan perempuan. Tidak ada yang salah dengan masa lalu. Sayangnya, manusia di jaman kita ini senang sekali membicarakan masa lalu sampai dibuat di program televisi sebagai infotainment (hiburan informasi). Saat informasi mengenai aib justru dijadikan bahan hiburan. Ya keadaan memang seperti itu kan sekarang.Kalimat pernyataan bahwa “Laki-laki dilihat dari masa depan dan perempuan dari masa lalu” seperti propaganda untuk menguntungkan laki-laki saja. Saya lebih suka melihat seseorang di masa sekarang dan visinya di masa depan lalu dilihat bagaimana dulu dia di masa lalu. Masa depan-sekarang-masa lalu adalah satu kesatuan. Berada dalam satu jiwa dalam satu individu dan jasad. Masing-masing memilikinya dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Kecuali orang itu amnesia, tapi tetap saja orang lain akan menyimpan memori tentang masa lalunya itu.Perempuan, dengan segala penghormatan saya. Sebab ibu saya adalah seorang perempuan. Masa depan yang ada padanya jauh lebih penting daripada apa yang terjadi di masa lalunya. Seburuk apapun masa lalu itu.
Bahkan Allah saja selalu memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengubah dirinya menjadi baik. Memaafkan masa lalu yang mungkin penuh kesalahan.
Bila kita berada dalam posisi itu, dilihat dari masa lalunya. Apa kita mau? Coba tanya ke diri sendiri :)Kita semua diajarkan untuk berprasangka baik, kan? :)

kurniawangunadi:

Pertanyaan menarik : Sering orang berkata, laki-laki dilihat masa depannya, wanita dilihat masa lalunya, bagaimana menurut mas Gun?

Ini saya jawab :

Saya akan menjawab dengan pendapat pribadi, jadi ini subjektif ya :)

Menurut saya, kalimat tersebut sangat picik dan cenderung menyudutkan perempuan. Saya laki-laki dan ketika membicarakan perempuan saya selalu berkaca bagaimana bila itu adalah ibu saya, saudara perempuan saya, atau istri dan anak-anak perempuan saya nantinya.

Masa lalu itu dimiliki setiap orang, baik laki-laki dan perempuan. Tidak ada yang salah dengan masa lalu. Sayangnya, manusia di jaman kita ini senang sekali membicarakan masa lalu sampai dibuat di program televisi sebagai infotainment (hiburan informasi). Saat informasi mengenai aib justru dijadikan bahan hiburan. Ya keadaan memang seperti itu kan sekarang.

Kalimat pernyataan bahwa “Laki-laki dilihat dari masa depan dan perempuan dari masa lalu” seperti propaganda untuk menguntungkan laki-laki saja. Saya lebih suka melihat seseorang di masa sekarang dan visinya di masa depan lalu dilihat bagaimana dulu dia di masa lalu. Masa depan-sekarang-masa lalu adalah satu kesatuan. Berada dalam satu jiwa dalam satu individu dan jasad. Masing-masing memilikinya dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Kecuali orang itu amnesia, tapi tetap saja orang lain akan menyimpan memori tentang masa lalunya itu.

Perempuan, dengan segala penghormatan saya. Sebab ibu saya adalah seorang perempuan. Masa depan yang ada padanya jauh lebih penting daripada apa yang terjadi di masa lalunya. Seburuk apapun masa lalu itu.

Bahkan Allah saja selalu memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengubah dirinya menjadi baik. Memaafkan masa lalu yang mungkin penuh kesalahan.

Bila kita berada dalam posisi itu, dilihat dari masa lalunya. Apa kita mau? Coba tanya ke diri sendiri :)

Kita semua diajarkan untuk berprasangka baik, kan? :)

quranid:

QURANOGRAPHIC #3"Quran itu seperti cermin"Masih ingat dengan perkataan sahabat Utsman bin Affan r.a? Yang kurang lebih seperti ini nih: “Kalaulah hati bersih, niscaya tidak akan ada rasa kenyang terhadap Kalamullah (Quran).” Nasihat yang #jleb sekali bukan? Begitulah, bagaimana interaksi kita dengan Quran sering kali merupakan cerminan atas kondisi hati kita. Pantulan atas atmosfer iman kita. Oleh karena itu, saat kita mulai sulit berinteraksi dengan Quran, ada baiknya kita periksa iman kita. Kemudian berbincanglah dengan hati kita. Dosa apa gerangan yang sudah aku lakukan sehingga mushaf Quran tiba-tiba menjadi berat untuk dipegang?Mengapa kok rasanya Quran ‘menolak’ untuk aku dekati? Apakah karena hatiku sedang kotor?Kalau sudah menemukan jawabannya, ya langsung sergap saja Quran nya. Tunaikan haknya. Kemudian, lihat apa yang terjadi! Selamat mendiagnosis kondisi kesehatan hati dan iman via Quran. Selamat meningkatkan iman dengan Quran. ===========================Share is care..Bantu sebarkan ya.. 

quranid:

QURANOGRAPHIC #3
"Quran itu seperti cermin"

Masih ingat dengan perkataan sahabat Utsman bin Affan r.a? Yang kurang lebih seperti ini nih: “Kalaulah hati bersih, niscaya tidak akan ada rasa kenyang terhadap Kalamullah (Quran).” 

Nasihat yang #jleb sekali bukan? Begitulah, bagaimana interaksi kita dengan Quran sering kali merupakan cerminan atas kondisi hati kita. Pantulan atas atmosfer iman kita. 

Oleh karena itu, saat kita mulai sulit berinteraksi dengan Quran, ada baiknya kita periksa iman kita. Kemudian berbincanglah dengan hati kita. 

Dosa apa gerangan yang sudah aku lakukan sehingga mushaf Quran tiba-tiba menjadi berat untuk dipegang?

Mengapa kok rasanya Quran ‘menolak’ untuk aku dekati? Apakah karena hatiku sedang kotor?

Kalau sudah menemukan jawabannya, ya langsung sergap saja Quran nya. Tunaikan haknya. Kemudian, lihat apa yang terjadi! 

Selamat mendiagnosis kondisi kesehatan hati dan iman via Quran. Selamat meningkatkan iman dengan Quran. 

===========================
Share is care..
Bantu sebarkan ya.. 

Takut (Jujur)

*Si H baru pulang main dalam keadaan bajunya yang basah semua + kaki kotor*

H : Teh, bajunya ganti… Kena air tadi

T : Main dimana ini?

H : Di atas tadi, terus kena air banyak

T : *mikir* *ternyata keadaan di luar habis hujan* Hujan-hujanan atau kena air?

H : Kena air banyak Teh.

T : Teteh sih mendingan kamu jujur aja… Teteh enggak bakal marah.

H : Iya tadi hujan-hujanan. Namanya juga kena air banyak. *sambil pasang muka melas*

Anak kecil, yang terkenal kejujurannya ternyata bisa juga berbohong. Mungkin kesalahan bukan hanya ada pada si anak kecil itu, tapi kesalahan juga ada pada orang dewasa yang salah menempatkan diri dalam menanggapi masalah si anak kecil. Tapi… terlepas dari permasalahan yang ada, kebohongan memang menimbulkan kegelisahan yang luar biasa sih. Reaksi minimal dari tubuh kita ya lemas dan mukanya melas. Haha :))

Dek, jangan bohong lagi ya. Kata ‘bohong’ enggak ada di ‘kurikulum’ ajaran Ibu. :)

Seperti berani kotor itu baik, berani jujur juga baik. Jauh lebih baik.